Perlu Hati-Hati Dalam Manage Pengeluaran Karena Hal Ini!

Spread the love

Original thread by ✨ Widas ✨ (@WidasSatyo)

Temen-temen, kupikir gak ada salahnya kalo mulai sekarang kita perlu lebih hati-hati dalam manage pengeluaran.

Karna untuk saat ini, setidaknya yg keliatan di depan mata, kita dihadapkan sama dua permasalahan yg cukup serius :
1. Food Crisis
2. Inflasi

Perlu Hati-Hati Dalam Manage Pengeluaran Karena Hal Ini!

Food crisis saat ini telah menjadi isu global. Dan penyebab kenapa itu terjadi bisa karna beragam faktor, diantaranya :

1. Konflik Russia vs Ukraine
2. Cuaca Ekstrim di beberapa wilayah
3. Larangan atau pembatasan ekspor beragam komoditas pangan
4. Wabah penyakit


Konflik Russia vs Ukraine jelas mengacaukan global supply chain. Terlebih mereka pemain besar exportir gandum. Dengan konflik yg terjadi saat ini, produktifitas panen gandum, khususnya di Ukraine, ikut ngedrop drastis.

Ini bikin keseimbangan supply global jadi kacau. Harga naik.


Cuaca ekstrim jg berperan menggoncang keseimbangan supply komoditas pangan. Contoh : soybean di Argentina.

Mereka sempat mengalami gagal panen akibat cuaca kering yg ndak biasanya terjadi. Ini bikin harga kedelai langsung melonjak naik. Sempet bikin perajin tahu mogok jualan.


Kegagalan panen tersebut juga terjadi di India. Yg berujung pada keluarnya kebijakan larangan ekspor gandum buat memenuhi kebutuhan dlm negeri.

Yg terbaru, Malaysia juga keluarin larangan ekspor ayam krna supply domestik terjadi kelangkaan dan harganya jadi melonjak.


Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yg menyerang hewan ternak sempat dikhawatirkan akan berdampak pada lonjakan harga daging sapi.

Namun Alhamdulillah, sejauh ini kondisinya belum terdampak. Mgkn krna masyarakat kita gak banyak yg rutin konsumsi daging sapi. Demand tetep low.


Potensi food crisis yg menyebabkan lonjakan harga tersebut, bisa berdampak besar pada ekonomi secara keseluruhan.

Baca Juga  KKB Papua Sebagai Teroris dan Implikasinya

Terlebih komoditas pangan tersebut juga menjadi bahan baku produk-produk makanan yg selama ini kita beli dan konsumsi.

Inflasi sudah tak terhindarkan.


Sebagai catatan, inflasi kita di angka 3,47% jika dibandingkan dengan kondisi setahun terakhir (year on year).

Trigger-nya macem2 : mulai dari kenaikan harga BBM, naiknya harga Migor, sampai yg terakhir potensi food crisis ini. Harga komoditas bahan baku pangan naik.


Ketika harga bahan baku naik, cost produksi akan ikut naik. Dan saat cost produksi naik, itu berdampak pada kenaikan harga jual produk (cost of goods sold).

Persoalannya, lonjakan harga-harga kebutuhan ini ndak diimbangi dengan meningkatnya income dari masyarakat.


Dalam situasi itu, dikhawatirkan daya beli masyarakat drop. Ketika daya beli drop, growth ekonomi akan nyungsep lagi.

Kondisi ini disadari sepenuhnya oleh Bu Sri Mulyani dan beliau menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. I hope it works effectively.

https://www.google.com/amp/s/amp.kontan.co.id/news/jaga-daya-beli-masyarakat-anggaran-perlindungan-sosial-2022-ditambah-rp-186-triliun


Lagi dan lagi, imbas semua ini akan berdampak serius pada kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Kita dalam hal ini dituntut untuk bisa adapt dan memutar otak gimana caranya biar income gak sampe defisit terus setiap bulannya.

Harus bisa cukup. Syukur2 nabung.


Entah dengan menambah penghasilan lewat side hustle, resign dan pindah kerjaan dengan gaji lebih baik, atau beneran memanage pengeluaran seefisien mungkin.

Apapun itu, semoga Allah selalu memudahkan langkah kita dan kita semua bisa survive dalam situasi-situasi sulit ini. ?


Btw, barangkali ada yg nyari tudung saji estetik buat meja makan di rumah. ?
https://shope.ee/5KXPVd12qP


Spread the love

Leave a Reply