Cerita Horor: Rimbun, Si Cantik Dari Batu Merah Delima

  • Post author:
  • Post category:Cerita Horor
  • Reading time:16 mins read

[quads id=1]

Original thread by mwv.mystic (@mwv_mystic)

RIMBUN

based on true story

a thread

Cerita Horor: Rimbun, Si Cantik Dari Batu Merah Delima

Cerita ini sengaja gw drop krn cerita berikutnya yg akan gw bahas adalah Astana Ratu Anjani.. Disana ada keterlibatan sosok Rimbun dalam alur ceritanya.

Sosok Rimbun mungkin sudah dikenal banyak pembaca lama dari IG, tapi untuk yg baru tau mwv dari twitter, inilah kisah Rimbun


Bulan Mei tahun 2017..

Hari itu, seperti biasa selama perjalanan Bogor ke Jakarta via kereta, gue selalu habisin waktu dengan main handphone. Scroll scroll timeline Instagram sambil dengerin musik dari spotify.


Sampai akhirnya tanpa sengaja explore gue ngasih rekomen sebuah akun yang share cerita cerita perihal jin.

Gue tertarik untuk baca salah satu judulnya dan akhirnya tenggelam dalam cerita cerita di akun itu sepanjang perjalanan gue.


Gue saat itu sadar bahwa orang orang yang berinteraksi dengan bangsa jin itu banyak dan udah ga bisa dipungkiri lagi. Sampai akhirnya gue kepikiran untuk share kisah pengalaman gue sendiri dan mungkin nantinya akan dapat solusi terbaik atas apa yang gue alami..


Kenalin gue Rama, itu nama asli gue dan gue ga keberatan jika nama ini ditampilkan karena cerita gue memang full mengenai apa yang gue alami selama ini.

Namun bisa gue pastikan semua nama yang akan disebut dalam cerita ini nantinya, merupakan nama nama samaran.


Hal ini terkait privasi teman teman gue yang tidak ingin dipublikasikan secara luas, namun mereka sudah mengizinkan gue untuk menceritakan keterlibatan mereka disini.


Cerita ini nantinya akan memulai banyak cerita lain sepanjang hidup gue. Ya inilah momen gue, orang yang apatis bahkan menolak keberadaan mereka di dunia ini dipaksa percaya dan akhirnya berinteraksi dengan mereka yang gak kasat mata..

****


“What an amazing Saturday!! 30 CLOSING!! WOW! It’s a new record! Can’t say anything right now. Well, you all amazing guys. Thank you. We gonna have some party tomorrow!! Yeaaahh! But now, please go home safely, have some rest, I’ll see you tomorrow, 11 AM sharped…


… Thank you so much and Good Night.” Semangat Josh, bos gue ngasih closing statement hari ini. Kami baru saja berhasil closing 30 client hari ini dan itu setara income 3 milyar rupiah buat perusahaan ini.


Hiruk pikuk ruangan kerja kami pecah merayakan hal itu sampai tiba tiba sebuah tepukan mendarat di pundak gue.

“Man of the match, Munchies gak?” kata salah satu rekan gue, Fariz.

“Harvest aja deh. Munchies mah rame bener gila weekend gini. Mending dapet tempat” jawab gue.


“Yah, tapi gue pengen nge-beer nih”

“Yailah ke Munchies cuman nge-beer, di pantry juga banyak noh” kata gue sambil nunjuk pantry yang memang ada stock beer milik Josh dan karyawan.

“Ya beda anjir, kan nyari suasananya”


“Yaudah terserah deh. Gantian traktir ya? Kita berdua doang nih? Kek homo, Njirr”

“Kan elo yang abis closing tiga ngehe. Eh, tapi gapapa deh, gue yang traktir, tapi lo minum juga ya. Iya berdua aja, nanti kan nyari dedek disana…”


Sebelum temen gue ini nyelesaiin kalimatnya, gue udah toyor kepalanya duluan.

Sudah saatnya pulang dan gue bersiap ke arah pantry yang juga berfungsi sebagai dress room kantor ini. Tapi tiba tiba aja sebuah panggilan menghentikan langkah gue, dan itu panggilan dari Josh.


“Hey Rama! Buddy! Please come inside for a moment” ujar Josh sambil menepuk pelan bahu gue dan membawa gue ke ruangannya.

“What else Josh? I’m so tired actually…” kata gue ke Josh sambil menghela nafas dan nyentuh-nyentuh jam di pergelangan tangan gue.


Pertanda kalo jam kerja udah selesai dan gue udah berhak pulang.

Sebenarnya Ini yang gue suka kerja dengan orang asing, mereka sangat menghargai waktu dan ngga baper sama hal hal seperti ini.


Coba kalo gue lakuin hal kaya gini ke orang Indo, mungkin gue langsung dipecat karena dicap tidak menghormati pimpinan atau setidaknya diSP lah.

“I know, buddy. I’m sorry. 5 minutes, please” pinta Josh.

“Okay. Can I take this off?” tanya gue sambil nunjuk jas dan dasi.


Si Josh bales dengan anggukan, mempersilakan gue lepas keduanya.
Mau ngga mau, walaupun males, gue jalan sama Josh menuju ruang kerjanya sambil nyopot jas sama dasi. Di dalam, kita duduk berhadapan dan Josh sepertinya mau membicarakan sesuatu yang penting dan privasi.

Baca Juga  Cerita Horor: Sepenggal Kisah Akhir Sewu Dino (1000 Hari)

“Well, I don’t wanna waste our time. So, I’m gonna asking you one more time. Are you really want to leave?” (Jadi, gue gamau buang buang waktumu, gue mau tanya sekali lagi, kamu benar benar mau keluar dari perusahaan ini?) tanya Josh serius.


Gue menghela nafas sekali lagi. Gue mencoba nyerna makna tatapan matanya itu. Ada yang aneh, ada sesuatu yang bukan Josh banget, dia terlihat khawatir dan sedih.

“Josh, we already talked it (Josh, kita udah bicarakan ini sebelumnya)” jawab gue singkat.


“Even if I triple it?” (Bagaimana kalau gue menaikan gajimu tiga kali lipat?) tanya Josh lagi sambil ngeluarin beberapa lembar kertas, ia akan menaikkan gaji gue tiga kali lipat asalkan gue gajadi resign dari perusahaannya itu.


Pandangan gue beralih dari semula ke mata Josh, pindah ke kertas itu. Kontrak baru dengan nominal baru.

Sejujurnya, angka di kertas itu cukup menggiurkan buat gue. Keyakinan gue buat cabut darisana mulai goyah.


Gue pun balik tatap mata Josh. Tajem dan tidak berbicara apapun.

Sepintas gue liat senyum tipis di bibir Josh. Bule ini ngerasa menang.

Gue alihin lagi pandangan gue, kali ini ke samping Josh, menerawang ngeliatin suasana langit malem Jakarta yang penuh gemerlap.


Pada saat itulah…

DEG!

Gue liat sosok itu lagi di kaca. Lengkap dengan pakaian kerajaannya, tapi.. kali ini ngga dengan muka cantiknya. Kulit mukanya merah, matanya kuning, telinganya melar menjulur dari sela-sela rambutnya yang jarang..


Dia natap gue tajem dan seakan memberikan ancaman. Dia menggeleng dengan gerakan kepala yang aneh, pelan dan patah-patah. Gue paham maksudnya. Tatapan gue kali ini beralih ke Josh lagi.

“Make it five!” (buat jadi lima kali lipat!).


Gue ngajuin tawaran yang gue tau pasti ditolak sama Josh dengan kalimat yang tegas dan diakhiri senyum tipis.

Josh pun langsung bereaksi. Dia ngacungin jari tengahnya ke arah gue.
Gue pun ngakak begitu pula Josh.


Kami sama sama kurang ajar waktu itu, tapi begitulah kedekatan kami yang bukan sekedar atasan dan karyawan, tapi lebih seperti teman.

“You know Josh, its not about it…” lanjut gue berusaha sok bijaksana.


Padahal ini di otak gue penuh suara caci maki sama diri gue sendiri yang baru aja nolak sebuah tawaran sebesar itu.

“Okay buddy. I got it. You’re such a fucking hard person!” jawab Josh nyerah.

“Anything else?” tanya gue sambil bangun dan bersiap keluar dari ruangannya.


“Nope. Get out of my room you stubborn!” kata Josh sambil berdiri, melangkah mendekati gue dan nendang kursi yang gue dudukin sambil masang muka sok marah karena gagal merayu gue untuk stay di perusahaannya.

Sekali lagi kami tertawa karena hal itu.


“Wait!” si Josh manggil lagi. Gue berhenti tepat di depan pintu dan berbalik.

“Catch!” (tangkap!) perintah Josh sambil ngelempar amplop ke gue.

“What is it?” tanya gue bingung.

“Just check it” (periksa aja) kata Josh. Gue pun ngebuka amplop itu.


Banyak kertas merah bergambar duo proklamator Indonesia ada di dalamnya.

“Wow! Thanks, but for what?” (wah terima kasih, tapi untuk apa?)

“For making history today”

“Got it. Thanks Josh!”


Gue pun melangkahkan kaki gue ke pantry yang tadi sempet batal karena dipanggil Josh ke ruangannya. Nyamperin si Fariz yang kayanya lagi mumet banget sampe pengen nge-beer.


Baru aja masuk ke pantry..

“Mas Rama…congrats ya dear, you’re awesome!” tiba tiba saja Erline, marketer paling muda dan paling bening se-kantor meluk sambil ngasih satu kecupan di pipi kanan gue.


“Woi woi woi, Dar dear dar dear aja! Ngga gini doong Lin…” tangan gue refleks sedikit dorong badannya ngejauhin badan gue. Gue paksain senyum sama dia sambil nunjukin cincin di jari manis tangan kanan gue.

“So what!?” ‘tantang’ Erline.


Sejujurnya gue mau marah sama kelakuan anak ini, tapi…

“So, elo harus berenti seenak jidat meluk-meluk sama kecup-kecup gue and be a ‘nice girl’. Oke?” kata gue sambil ngasih gerakan tanda kutip pake tangan di kata-kata nice girl.


Gue ngacak-ngacak rambutnya dan jalan, ngelangkahin ngelewatin dia, terus naro jas gue di gantungan jas pantry.

“Ngga mau. Aku mau jadi bad girl aja kalo sama kamu Mas…” rayu Erline yang memang begitu ke gue sejak kami akrab.


“Orang gilaaa dasar. Tuh sama Fariz aja yang abis batal nikah. Biasanya cowok begitu kan bad boy tuh, pas deh tuh” kata gue sambil menunjuk Fariz.

Baca Juga  Review Alena Anak Ratu Iblis (2023) dari WatchmenID

“Eh sianying, kenapa jadi bawa-bawa gue batal nikah!? Tapi iya juga sih Lin, lo ngga mau sama gue aja? Gantengan juga gue daripada si Rambo” tanya Fariz dengan muka…ya gitulah.

“Idih ogah sama Mas Fariz mah, mesum” jawab Erline polos. Gue ngakak.


“Wahahaha…mampus lo” gue nyumpahin Fariz puas.

“Dasar lo Ram. Udah yuk cabut. Gue udah booking tadi” ajak Fariz.

Gue langsung melototin Fariz. Kata ‘booking’ itu masalahnya.

“EH KALIAN MAU KEMANA???” Tanya Erline setengah teriak.


“Ini nih si Fariz abis booking cewek buat nemenin dia di kostan” Jawab gue ngasal.

Gantian Fariz yang melototin gue. Gue nahan ketawa sebisa mungkin biar Erline ngga curiga.

“Ah, bohong ah. Mau kemana sih? Aku ngga diajak?” jurus manjanya si Erline keluar.


Gue liat-liatan sama Fariz. Beberapa detik kemudian gue naik-turunin bahu dan kerutin alis gue sebagai pertanyaan tanpa suara ke Fariz ‘Gimana? Kasih tau ngga?’.

Fariz bales jawab dengan ngangkat alis dan ngangguk.


“Cuman ke Munchies kok. Si Fariz pengen nge-beer sambil nyari jodoh.” Jawab gue akhirnya.

“IKUUTT…!!” teriak Erline.
“Ngga mabok tapi ya?” kata gue.
“Dikiiit…boleh ya?”
“Ngga”
“Ih, kenapa sih?”
“Males gotongnya” jawab gue ngasal


Singkat cerita, pergilah kita bertiga ke Munchies. Fariz sama Erline minum lumayan banyak. Sementara gue, mabok kopi. Fariz menggalau ria dengan cerita gimana dia baru aja batalin pernikahannya.


Berkali-kali mata gue ngeliatin minuman yang diminum sama Erline dan Fariz. Shit. Rasanya gue pengen banget minum lagi dan ketawa-ketawa lepas seolah beban hidup ngga ada sama sekali.

Emang dasar setan ya, paling ngga seneng liat orang tobat.


Tapi gue udah komitmen sama diri gue sendiri dan istri gue untuk berhenti minum. Gue mau berubah menjadi lebih baik walaupun masih sedikit demi sedikit dan berproses. Contohnya tetap ngebar tapi ga minum.


Erline kayanya ngeh gue ngeliatin minuman mulu dan tiba-tiba nyeletuk

“Udah sih mas, ayo minum bareng…dikiiit ajaa…” tiba tiba dia nyodorin gelas ke depan mulut gue sambil ngerangkul punggung gue.

Gue refleks lepasin rangkulannya Erline sambil ngegeleng.


“Udah dong Lin, kalo Rama ngga mau jangan dipaksa mulu. Ngga gitu caranya kalo lo mau nongkrong sama kita.” Tiba-tiba Fariz belain gue.

“Apaan sih Mas Fariz ikut-ikut aja!?” tau-tau Erline sewot.


“Ya lagian elo daritadi gitu mulu. Lo ngga liat tuh si Rama risih sama kelakuan lo? This is Indonesia Lin!” Fariz kepancing, nada bicaranya jadi naik.

Gue liat Erline kesentak. Dia ngeliatin gue, seolah bertanya ‘emang bener mas lo risih?’. Gue diem aja, cuman senyum tipis.


“Oh, maaf deh kalo ternyata aku cuman bikin risih. Aku balik duluan aja” Jawab Erline sambil bangun dan letakkin beberapa lembar uang.

Gue tahan tangannya Erline, tapi dia tetep ngeloyor pergi.

Fariz kaget, nggak nyangka reaksi Erline bakal kaya gitu.


“Kejar Riz, minta maaf gih sana. Udah malem nih, nanti dia kenapa-kenapa di jalan. Mana naik taksi online kan tuh anak” kata gue. Tapi Fariz ngga bergeming.

“Lo aja deh, gue males drama-dramaan gitu. Dia udah gede.” Tepis Fariz.


“Ya lo kan juga udah gede” kali ini giliran kata-kata gue yang nusuk Fariz.

“…Hhhh..yaudah lo tolong bujukin dia deh ya” pinta Fariz.

“Kan tadi lo yang janji mau nganterin dia. Lagian gue kan lagi ngga bawa mobil Riz.”


“Ram, gue minta tolong ya. Lo aja yang nganterin dia, pake mobil gue aja nih, parkirnya di tempat biasa, lo bawa balik aja sekalian ya, gue naik taksi aja ntar. Please bro. gue masih pengen sendirian disini, lo tau kan….” Kata Fariz lirih sambil nyerahin kunci mobilnya.


“Hhh..yoweslah. Got it. So sorry to hear that, Riz. Udah, what is yours, will eventually be yours.”

“Sipp, thanks broh. Ati-ati”

Gue pun cabut ngejar Erline setelah ngasih beberapa lembar uang ke Fariz tapi dibalikin sama dia,
“Giliran gue kan sekarang…”
“Thanks bro”


Gue nyusul Erline ke lobby dan disana gue liat dia lagi berdiri nunggu taksi online.

“Lin…”

“Kenapa mas?” sahut Erline dengan nunduk.

“Balik sama gue aja yuk. Udah malem, bahaya nanti…”


“Ngga usah mas. Makasih. Aku udah order taksi online. Ngga enak cancelnya. Lagian nanti aku bikin risih kamu lagi…”

Baca Juga  Cerita Horor: Majikan Pemuja Iblis (True Story)

“Duuh..Lo jangan salah paham gitu dong. Fariz lagi emosi tadi, lo ngerti kan dia lagi kenapa? Yuk, pulang sama gue aja sambil kita ngobrol yah.”


“Terus taksinya gimana?” kata Erline.

“Yaudah gapapa, kita tunggu dulu aja sebentar. Ngga usah di cancel. Nanti gue yang ngomong sama drivernya.”

“Hm…Oke..”


Beberapa saat kemudian, taksi pesanan Erline datang

“Malam. Mbak Erline?” sebuah mobil berhenti tepat di depan gue sama Erline dan pengemudinya langsung bertanya seperti itu setelah ngebuka kaca jendelanya tanpa turun keluar dari mobil.


“Malam pak. Pak maaf ya, Mbak Erline nya ngga jadi naik, kebetulan ternyata masih ada urusan. Ini ongkosnya ya pak. Ordernya tetep dijalanin aja ya pak, ngga kita cancel.” Jawab gue sambil nyerahin beberapa lembar uang.


“Loh? Beneran mas? Kalo ngga jadi naik gapapa kok di cancel aja, ini ongkosnya juga ngga usah. Kebetulan saya juga mau pulang” jawab bapak driver itu ramah.

“Udah gapapa pak. Di keep aja ya. Makasih banyak ya pak”


“Yaudah kalo gitu. Makasih banyak ya mas. Semoga makin lancar rejekinya.”
“Aamiin…”

Gue sama Erline pun masuk kembali ke dalam gedung dan melanjutkan langkah menuju parkiran.


Entah kenapa, basement malem itu hawanya ngga enak banget, sepi pula.
Tiba-tiba Erline ngerangkul lengan gue. Gue udah siap-siap mau ngelepasin rangkulannya, tapi begitu gue liat mukanya ketakutan, gue urungin niat gue. Ini bukan karena manja, tapi karena Erline ketakutan.


“Mas, agak cepet yuk, aku takut…” kata Erline.

Kita berdua pun mempercepat langkah menuju mobil Fariz. Sesaat sebelum masuk mobil, gue liat sekelebatan bayangan yang melayang dari salah satu tiang ke belakang mobil.

SRRR…bulu kuduk gue merinding.


Belom hilang merinding gue karena bayangan tadi, begitu gue duduk, masang seat belt, nyalain mesin dan benerin spion tengah, tiba-tiba..

DEG!
Dia muncul lagi dan duduk di bangku barisan tengah. Masih dengan muka buruknya dan bahkan lebih buruk lagi.


Gue gelisah.. Kemunculan sosok ini selalu menjadi pertanda sesuatu. Ada apa? Kenapa dia keluar sesering ini? Tadi di ruangan Josh, sekarang disini.

“Lo balik kemana Lin? Rumah apa apart?” tanya gue ke Erline buat ngalihin perasaan ngga enak gue akan kemunculan sosok itu.


“Mmm…ke..ke..Apart aja deh mas. Aku.. lagi pengen sendirian.” Jawab Erline. Gugup.

“Oke” jawab gue sambil ngejalanin mobil.


Gue bawa mobil Fariz sambil sesekali melirik spion tengah. Dia masih stay disana. Diam ga kasih tanda atau gerakan apapun, namun sosoknya yang dalam bentuk rusak itu cukup bikin gue sesekali kehilangan konsentrasi.


“Kamu tenang aja ya… saya nggak niat macem-macem. Ngga usah marah gitu.” Tiba-tiba Erline ngomong gitu ditengah perjalanan.

“Hah!? Marah? Gue ga mar..”

“Bukan kamu mas. Itu yang di belakang” jawab Erline memotong ucapan gue.

Gue kaget.


“What!? Erline?? Lu bisa liat dia juga” tanya gue kaget.

“Sejak awal kamu masuk kantor Mas” jawabnya.

“Serius?”

“He’emh. Udah mas yuk jalan, dia ngga suka diomongin” kata Erline.


Gue langsung ngelirik spion tengah. Dia masih disana. Ekspresi menyeramkannya belum berubah sekalipun Erline sudah mengatakan kalimat tadi.

Tapi ini jadi hal baru buat gue karena akhirnya ada orang lain yang notice keberadan makhluk ini selain gue..


Singkat cerita, perjalanan gue malam itu semobil ama Erline berlangsung dengan diem dieman. Kita ga ngobrol apapun dan sepanjang perjalanan sosok itu juga stay duduk di kursi tengah.


Selesai nganterin Erline, sepanjang perjalanan pulang ke rumah, banyak pertanyaan muncul di kepala gue..


‘Apa dia bener-bener ada?’

‘Jadi bener selama ini gue ngga berhalusinasi?’

‘Apa dia bakal selamanya hadir di hidup gue?’

‘Apa yang harus gue lakuin? Membiarkan dia stay atau perlu gue usir? Tapi gimana caranya?’


Iya, sosok yg dilihat Erline memang ada, gue bahkan mengetahui namanya. Namun selama ini gue mengira dia hanyalah bagian dari imajinasi atau sugesti gue saja. Tapi setelah Erline mengatakan hal itu barusan, seketika gue yakin apa yg gue lihat selama ini bukan khayalan gue semata.


Ini adalah awal mula pertemuan gue dengan makhluk yang memperkenalkan dirinya sebagai “Rimbun”..


Bagi yang ingin membaca langsung dan tidak terpotong2, Kisah lengkap kemunculan Rimbun bisa mwvers baca di Karyakarsa. dengan Link sebagai berikut..

https://karyakarsa.com/Mwvmystic/rimbun

Leave a Reply